Oleh : M. Khusnun Najib Divisi PPR

Generasi Baru Indonesia Universitas Trunojoyo Madura (GenBI UTM) kembali menunjukkan kepedulian sosialnya dengan megadakan program kerja yang sangat penting yaitu kegiatan Desa Tangguh Bencana (Destana) yang dilaksanakan pada Sabtu, 28 September 2024 di Desa Banyuajuh, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan. Bersama Palang Merah Indonesia (PMI) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan, GenBI UTM berhasil mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam meningkatkan kesiapsiagaan mereka menghadapi bencana. Kegiatan ini tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga membangkitkan semangat kolaborasi dan kesadaran akan pentingnya pengetahuan dalam situasi darurat.
Mengapa Desa Banyuajuh?
Desa Banyuajuh dipilih sebagai lokasi kegiatan ini karena rekomendasi dari pihak kecamatan serta potensi bencana angin puting beliung yang sering terjadi di daerah tersebut. Dengan adanya ancaman ini, penting bagi masyarakat untuk memahami langkah-langkah yang harus diambil saat bencana melanda.
Kegiatan apa saja yang telah dilaksanakan?

Kegiatan Destana ini tidak hanya berupa sosialisasi, tetapi juga simulasi praktis tentang pertolongan pertama dan proses evakuasi. PMI dan BPBD memberikan pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana menangani situasi darurat. Warga diajarkan cara memberikan pertolongan pertama kepada korban yang tertimpa pohon, pingsan, atau yang membutuhkan bantuan segera.
Antusiasme warga sangat tinggi, terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan mengenai teknik evakuasi dan penanganan korban. Masyarakat juga sangat antusias menanyakan tentang pembentukan Desa Tangguh Bencana dan peran lembaga seperti BPBD dan Dinas Sosial.
Apa dampak Positif bagi Masyarakat?
Kegiatan ini memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat Banyuajuh. Warga kini lebih paham mengenai langkah-langkah yang harus diambil saat bencana terjadi. Mereka merasa lebih siap dan mandiri dalam melakukan evakuasi, terutama ketika BPBD dan PMI belum tiba di lokasi.
Dengan pengetahuan yang didapat, masyarakat kini lebih memahami peran lembaga-lembaga penanggulangan bencana dan fungsi masing-masing. Harapannya, Desa Banyuajuh bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam membangun ketahanan terhadap bencana.
Kesimpulan
Kegiatan Destana di Desa Banyuajuh menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi antara komunitas, organisasi, dan pemerintah dalam menghadapi tantangan bencana. Melalui sosialisasi dan simulasi yang dilakukan, masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga rasa percaya diri untuk menghadapi situasi darurat. Semoga kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menginspirasi desa-desa lain yang terdampak bencana untuk menjadi tangguh dalam menghadapi bencana.




