GenBI UTM — Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya menggelar Workshop Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) bertajuk “Ngobrol Gaya Baru” pada Rabu (1/10). Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini diikuti oleh mahasiswa Generasi Baru Indonesia (GenBI) dari berbagai universitas se-Jawa Timur, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), dan masyarakat umum untuk meningkatkan pemahaman komunikasi inklusif melalui praktik langsung bahasa isyarat.
Workshop secara resmi dibuka dengan sambutan oleh Ika Sulistiawati. Ia menyampaikan bahwa keinginannya mengadakan kegiatan serupa sudah lama muncul, karena pembelajaran bahasa isyarat bukan hanya bermanfaat bagi teman Tuli, tetapi juga penting bagi masyarakat luas.
“Melalui bahasa isyarat, kita dapat menciptakan komunikasi yang lebih inklusif dan penuh kepedulian,” ujarnya.
Memasuki acara inti, workshop dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama, narasumber Ika Irawan, pendiri Komunitas TIBA (Tim Bisindo dan Aksesibilitas) yang berdiri sejak 4 November 2016, menjelaskan pentingnya memahami serta membangun komunikasi yang baik dengan teman Tuli. Tujuannya adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap inklusivitas.
Ika juga memaparkan berbagai cara komunikasi yang digunakan teman Tuli, mulai dari bahasa ibu, Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), komunikasi verbal dengan gerakan bibir, hingga tulisan. Selain itu, disampaikan pula etika berinteraksi dengan teman Tuli, yakni prinsip 3S (sentuh, salam, sapa), menjaga kontak mata, menggerakkan bibir dengan jelas, memanfaatkan bahasa tubuh, hingga menyediakan alat tulis atau juru bahasa isyarat.
Namun, ia juga menyoroti hambatan yang masih sering dihadapi, seperti minimnya papan informasi atau teks berjalan, terbatasnya akses juru bahasa isyarat, hingga rendahnya pelibatan Tuli dalam diskusi penting. Dalam bidang pendidikan, akses inklusif bagi peserta didik Tuli juga dinilai belum maksimal.
Pada sesi kedua, peserta diajak mempelajari alfabet BISINDO, berlatih memperkenalkan diri, hingga mempraktikkan kosakata dasar yang biasa digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Suasana berlangsung interaktif, dengan antusiasme peserta yang aktif menirukan gerakan dan mencoba berkomunikasi langsung menggunakan bahasa isyarat.
“Hari ini kita akan belajar huruf-huruf Bisindo dari A sampai Z, lalu berlatih cara memperkenalkan diri, serta memahami beberapa kata kerja seperti membaca dan menulis,” jelas pria yang akrab dipanggil Wawan.
Setelah sesi praktik, acara dilanjutkan dengan permainan interaktif berupa game tebak sambung. Peserta secara bergiliran menebak huruf, kata, maupun gerakan isyarat, kemudian menyambungkannya hingga membentuk rangkaian komunikasi sederhana. Tantangan ini ditutup dengan penyebutan arti dari setiap isyarat yang ditampilkan. Permainan berlangsung seru, sekaligus menjadi sarana menguji pemahaman peserta secara menyenangkan.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta dan panitia. Workshop BISINDO ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya komunikasi inklusif, sekaligus menjadi langkah awal memperluas penggunaan bahasa isyarat dalam kehidupan sehari-hari.








